Selengkapnya....
Sabtu, 27 November 2010
Selasa, 11 Agustus 2009
Senin, 04 Mei 2009
Kamis, 23 April 2009
Budidaya jagung manis H

I. Persiapan Lahan
1.1. Isolasi
Lahan yang akan ditanami jagung manis harus bebas dari tanaman sejenis varietas lain (isolasi), untuk menjamin kemurnian benih yang akan dihasilkan nanti. Isolasi ada dua cara, yaitu isolasi waktu yang berhubungan dengan saat tanam dengan tanam jagung varietas lain yaitu sekitar 30 hari, serta isolasi jarak, yang berhubungan jarak minimal dengan lokasi tanaman jagung varietas lain yaitu sekitar 400 m.
1.2. Pengolahan Tanah
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tertinggi diperoleh lewat pengolahan tanah yang baik dan benar, yaitu dengan cara dibajak dan digaru. Dengan pengolahan tanah akan diperoleh media yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan akar, mengurangi keberadaan gulma serta memperbaiki sirkulasi udara dalam tanah. Untuk tiap 4 meter perlu dibuatkan got yang berfungsi sebagai jalur irigasi dan drainase. Kegiatan ini dilakukan minimal 15 hari sebelum tanam.
Akan tetapi penanaman tanpa olah tanah (TOT) bisa juga dilakukan untuk mengejar waktu tanam. Dengan catatan pembersihan lahan harus tetap dijaga untuk mengurangi serangan hama atau penyakit sisa dari tanaman terdahulu.
1.3. Kebutuhan Benih
Benih yang digunakan ada dua macam yaitu benih tanaman jantan yang nantinya akan dimanfaatkan serbuksarinya, dan benih tanaman betina yang akan dimanfaatkan tongkol untuk benih. Kebutuhan benih jantan adalah 3 kg/ha, sedangkan benih betina sebanyak 9 kg/ha.
II. Penanaman
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanaman adalah split tanam antara jantan dan betina, perbandingan populasi jantan :betina, jarak tanam, penugalan dan jumlah benih perlubang.
•Pemisahan waktu tanam dimana benih jantan ditanam lebih dahulu dan diberi tanda patok berbendera, baru 6 hari kemudian benih betina ditanam.
•Perbandingan populasi jantan dengan betina adalah 1 : 4.
•Jarak tanam antar betina adalah 75 x 25 cm, dan jarak baris betina dengan baris jantan adalah 50 cm.
•Lahan ditugal dengan kedalaman 5 cm, kemudian benih dimasukkan satu benih perlubang dan ditutup lagi dengan abu atau sekam.
III. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan pengairan, dangir dan bumbun, mencabut tanaman tipe simpang (roguing), serta pengendalian hama dan penyakit.
3.1. Pemupukan
1.Pupuk yang digunakan adalah pupuk campuran antara ZA : SP-36 : KCl dengan perbandingan dosis perhektar adalah 280 : 210 : 35. pemupukan pupuk campuran ini dilakukan dalam tiga aplikasi berturut-turut adalah :
•Umur 0 hst dengan dosis ZA : SP-36 : KCl adalah 70 : 140 : 35 yang diaplikasi dengan tugal pada jarak 5 cm dari lubang dan ditutup lagi.
•Umur 15 hst dengan dosis ZA : SP-36 adalah 70 : 70 yang diaplikasikan dengan cara tugal 10 cm dari lubang tanam dan ditutup lagi.
•Umur 45 hst dengan dosis ZA sebanyak 140 kg yang diaplikasikan dengan digejik pada jarak 10 cm dari lubang tanam dan ditutup lagi.
3.2. Pengairan
Tiga hari sebelum tanam lahan perlu diairi untuk menciptakan kondisi tanah yang lembab dan hangat, sehingga mempercepat terjadinya perkecambahan benih serta ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pengairan diberikan sesuai kebutuhan, yang penting dijaga agar tanaman tidak kekurangan atau kelebihan air. Pengairan diberikan setiap kali selesai pemupukan. Jadwal pengairan yang dianjurkan adalah -3, 15, 30, 45 hst.
3.3. Dangir dan Bumbun
Pendangiran adalah usaha untuk mengurangi keberadaan gulma di areal tanaman, yang berpotensi sebagai kompetitor bagi tanaman jagung. Dangir dilakukan sebelum perlakuan pemupukan yaitu pada umur 21 dan 28 hst. Sedangkan membumbun adalah usaha untuk memperbaiki sirkulasi udara serta membantu pertumbuhan perakaran tanaman.
3.4. Cabut Bunga (Detaseling)
•Yang dimaksud adalah mencabut bunga jantan tanaman betina saat tanaman berumur antara 40-50 hst. Pekerjaan ini dilakukan pada pagi hari mulai pukul 06.00 wib sampai selesai dan diulangi lagi sebanyak 7-10 hari sampai benar-benar tidak ada lagi bunga jantan di tanaman betina. Syarat yang harus diperhatikan adalah jangan membiarkan kuncup bunga jantan sampai mekar dan pollen sudah pecah, karena akan mengakibatkan self pollinations. Standart kelulusan cabut bunga (detaseling) adalah 2.
3.4. Babat Jantan
• Tanaman jantan harus dibabat untuk menjaga kerahasiaan perusahaan bila proses serbuk silang sudah selesai dan untuk menghindari tercampurnya buah jantan pada saat panen. Hal ini dapat dilihat dengan adanya ciri-ciri rambut pada tongkol jagung sudah kering dan berwarna kecoklatan. Pekerjaan ini dilakukan cukup sehari yaitu pada umur 65 hst.
3.4. Rouguing
• Rouguing adalah kegiatan membuang tanaman yang bersifat menyimpang dari tanaman yang diharapkan. Ini dapat dilihat antara lain dengan ciri-ciri sebagai berikut : penampilan yang terlalu subur dengan daun yang lebar, warna pangkal batang yang merah, serta warna bunga yang merah. Perlakuan ini dilakukan baik pada tanaman jantan maupun betina, berfungsi untuk menjaga kemurnian induk sebagai penghasil benih, dan dilakukan dengan kontrol setiap minggu.
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama dan pengendaliannya
1. Lalat bibit (Atherigona exigua S.)
•Gejala serangan hama ini pada saat tanaman berumur 7 – 14 hst dengan gejala daun berubah menjadi kekuning-kuningan, disekitar gigitan atau bagian yang diserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati.
•Ciri-ciri lalat bibit adalah warna lalat abu-abu dengan warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, panjang lalat 3 – 3,5 mm.
•Pengendalian hama ini adalah dengan penanaman serentak dan menerapkan pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup, terutama setelah selesai panen jagung. Mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang, menjaga kebersihan lahan dari gulma, serta mengendalikan dengan semprot pestisida menggunakan Dursban 20 EC, Hostation 40 EC, Marshal 25 ST dengan dosis sesuai anjuran.
2. Ulat pemotong dan penggerek buah
•Contoh ulat pemotong adalah Agrotis sp., Spodoptera litura.
•Contoh ulat penggerek adalah Ostrinia furnacalis.
•Contoh ulat penggerek buah adalah Helicoverpa armigera.
•Gejala serangan ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batang, adanya tanaman muda yang roboh.
• Pengendalian hama-hama tersebut adalah dengan tanam secara seremmpak pada areal yang luas, mencari dan membunuh secara manual, serta melakukan semprot dengan insektisida dengan dosis sesuai anjuran.
3.5.2. Penyakit dan pengendaliannya
1. Penyakit bulai (Downy mildew)
Disebabkan cendawa peronosporta maydis yang berkembang pesat pada suhu udara 27 derajat ke atas serta keadaan udara yang lembab. Gejala serangan adalah pada tanaman umur 2 – 3 minggu, daun runcing dan kaku, pertumbuhan terhambat, warna daun kuning dan terdapat spora berwarna putih pada sisi bawah daun.
2. Penyakit bercak daun
Disebabkan oleh jamur Helminthosporium sp, dengan gejala adanya bercak memanjang berwarna kuning dikelilingi wanra kecoklatan. Semula, bercak tampak basah kemudian berubah warna menjadi coklat kekuningan, dan akhirnya menjadi coklat tua.
Pengendalian dengan cara pergiliran tanaman serta dengan menyemprot bahan kimia seperti Daconil dan Difolatan.
3. Penyakit gosong bengkak
Disebabkan jamur Ustilago sp. yang menyerang biji, sehingga menyebabkan pembengkakan yang mengakibatkan pembungkus menjadi rusak.
Pengendalian dengan jalan mengatur irigasi dan drainase, memotong bagian yang terserang dan dibakar, serta menggunakan benih yang sudah dicampur dengan fungisida misalnya Saromyl.
4. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebabnya adalah jamur Fusarium atau Giberella zeae. Penyakit ini baru dapat diketahui setelah klobot dibuka. Biji-biji yang terserang berwarna merah jambu atau merah kecoklatan yang akan berubah warna menjadi coklat sawo matang.
Pengendalian adalah dengan menggunakan benih varietas unggul, pergiliran tanaman, seed treatment, serta melakukan penyemprotan dengan bahan aktif Mancozep bila ada gejala serangan.
IV. Panen
Panen jagung manis dilakukan sekitar umur 95-100 hst, dimana pada saat tersebut, buah tanaman sudah dikatakan masak secara fisiologis dengan ciri-ciri daun dan kelobot sudah mengering(menguning), bila kelobot dibuka biji sudah tampak kisut 100%, serta ada black layer pada daerah titik tumbuh.
Teknis panen dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Kelobot pembungkus buah dikupas dengan cara disobek dengan tangan.
2. Seleksi buah, dengan cara dipisahkan antara buah normal dengan yang masih muda serta busuk. Buah yang muda dipisahkan untuk kemudian dijemur dahulu. Sedangkan yang busuk dibuang dan tidak perlu dikirim ke pabrik.
3. Buah-buah normal dimasukkan ke dalam zak-zak yang sudah disiapkan, untuk kemudian ditimbang dan dikirim ke pabrik.
Minggu, 05 April 2009
Budidaya Mentimun
I. Persemaian
Persemaian dilakukan sebelum penanaman langsung di lapangan, benih diperam pada kertas merang lembab selama 24 jam di tempat yang hangat. Setelah muncul radikula baru, kecambah dipindah ke polibag ukuran 4 x 7 cm. Media polibag terdiri dari campuran tanah/pasir : pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1 : 1 atau 2 : 1. dan ditambah TSP secukupnya. Setelah pindah semai, media ditambah Petrofur secukupnya. Selama dalam persemaian, bibit disiram air 1 – 2 kali sehari, serta disemprot dengan fungisida atau insektisida untuk mencegah serangan hama atau penyakit dengan dosis rendah. Pindah tanam dilakukan setelah bibit berumur 10 – 15 hari, atau setelah memiliki 2 – 3 daun sempurna.
II. Pengolahan Lahan
Lahan yang tersedia dibajak dan digaru untuk menciptakan kondisi tanah yang berstruktur gembur kemudian dibuat bedengan ukuran 6 x 1 m, dengan jarak antar bedeng 1 m.
Dalam bedengan tersebut ditambah pupuk kandang (25.000 kg/ha), ZA (1200 kg/ha), TSP (250 kg), dan KCl (300 kg/ha). Dosis tersebut merupakan dosis total kebutuhan tanaman. Selanjutnya, bedengan dicangkul untuk meratakan campuran pupuk yang ada. Selanjutnya adalah memasang mulsa plastik hitam perak yang dilakukan pada siang hari.
III. Pindah Tanam (Transplanting)
Satu hari sebelum transplanting, lahan perlu diairi untuk menambah kelembaban tanah. Transplanting dilakukan sore hari untuk memperpendek masa stress tanaman akibat pindah tanam. Plastik disobek hati-hati untuk mencegah pecahnya bola tanah. Bibit ditanam dengan leher akar sejajar dengan permukaan tanah. Daerah tanah kemudian ditekan untuk memadatkan tanah. Setelah transplanting, tanaman perlu dikocor dengan Agrimicin/Agrep dengan konsentrasi 1 gr/lt air. Sedangkan jarak tanam adalah 60 x 50 cm.
IV. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan, pengairan, pemasangan lanjaran, wiwil dan ikat, serta pengendalian hama dan penyakit yang menyerang tanaman tersebut.
4.1. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 3 kali dengan dosis 10 gr per tanaman atau 1 sendok teh untuk aplikasi pertama pada umur 12 hst. Sedangkan aplikasi kedua dan ketiga dengan dosis 20 gr pertanaman atau 1 sendok makan pada umur 25 dan 45 hst. Pupuk diletakkan pada jarak 10 – 20 cm dari tanaman (dibawah mulsa).
4.2. Pengairan
Pengairan diberikan setiap selesai pemupukan. Sedangkan pengairan rutin diberikan dengan melihat kondisi tanah di bawah mulsa. Pada musim hujan, yang harus diperhatikan adalah drainase yang harus terbuka untuk membuang air dari dalam areal tanaman.
4.3. Pemasangan lanjaran
Pemasangan lanjaran bisa dilakukan atau dipasang tanaman belum transplanting atau dipasang setelah selesai tanam. Hal ini untuk mencegah kerusakan pada akar tanaman.
4.4. Pewiwilan dan Pengikatan
Wiwil adalah pekerjaan membuang tunas-tunas yang tumbuh di ruas ke 3 atau 4. Dampak positif dari wiwil ini adalah mempercepat pertumbuahan tanaman ke atas disamping untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru, Sedangkan fungsi ikat adalah agar tanaman dapat menjalar ke atas, sehingga tanaman dapat tumbuh tegak. Dengan ikat akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan dan panen.
4.5. Hama dan Penyakit
4.5.1. Hama dan pengendaliannya
Hama-hama yang biasa menyerang tanaman mentimun adalah thrips, oteng-oteng, lalat buah dan kutu daun.
1. Trips
Ciri-ciri tanaman yang terserang thrips adalah daun keriting ke atas, pertumbuhan kerdil, serta daun menguning. Hama ini dapat dikendalikan dengan pestisida Winder.
2. Oteng-oteng (Aulocaphora sp)
Merupakan kumbang dengan ukuran tubuh 1 cm dengan sayap kuning polos. Menyerang dengan merusak dan memakan daun hingga tinggal tulang daun. Hama ini dikendalikan dengan Lannate dan Sevin 85 s.
3. Lalat buah (Dacus sp)
Lalat menyerang buah dengan bertelur. Larva lalat merusak buah dari dalam> Hama ini dikendalikan dengan memasang perangkap lalat yang telah diberi larutan Petrogenol, serta dengan semprot insektisida yang berbau menyengat seperti Malathion.
4. Kutu daun (Aphids sp))
Kutu berukuran 1 – 2 mm, kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala serangan adalah daun menjadi keriput, keriting dan menggulung ke bawah. Hama ini dapat dikendalikan dengan Perfectin 40 EC.
4.5.2. Penyakit dan pengendaliannya
Sedangkan penyakit yang biasa menyerang adalah rebah bibit, Downy mildew, powdery mildew, layu fusarium dan layu bakteri.
1. Rebah bibit (Dumping off)
Disebabkan oleh jamur Phytium spp., dengan gejala busuk basah pada batang bibit dekat dengan permukaan tanah. Dapat dikendalikan dengan Kocide.
2. Downy mildew (Pseudoperonospora cubensis)
Gejala serangan adalah pada daun terdapat bercak kuning dan berjamur. Pada stadia lanjutan, daun akan menjadi coklat dan busuk. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan Fungisida seperti Victory, Saromyl.
3. Powdery mildew (Erisiphe cichotacearium)
Berkembang jika di tanah kering dimusim kemarau tingkat kelembabannya tinggi. Gejala serangan adalah permukaan batang dan daun tertutupi tepung putih, sehingga daun menguning dan mengering. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan fungisida berbahan aktif tembaga hidroksida, metalaksil, maneb dan zineb.
4. Layu Fusarium (Fusarium oxysporium)
Gejala serangan adalah adanya bercak memanjang pada bagian batang dekat permukaan tanah, berwarna kuning dan coklat tua. Jika batang tersebut dipotong, akan tampak lingkaran cincing coklat pada berkas pembuluh. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan kocor dengan menggunakan Kocide.
V. Panen dan Pasca Panen
Panen dilakukan setelah buah tampak menguning, dengan ciri permukaan kulit mengeluarkan net/garis seperti jaring. Biasanya tampak pada umur 60 hst. Setelah buah dipanen, buah-buah tersebut dicuring untuk mendapatkan benih yang lebih berisi. Hal ini dilakukan selama 3-5 hari.Setelah curing, buah kemudian dibelah untuk krmudian dikeluarkan isinya dan ditampung dalam wadah besar, untuk diperam lagi selama satu malam. Keesokan harinya baru dilakukan pencucian untuk memisahkan benih dengan kotoran lainnya. Benih-benih yang telah bersih kemudian direndam dalam kaporit selama 5 menit, kemudian ditiris di tempat yang teduh selama 2 jam, kemudian dijemur selama 3 hari sampai kering. Penjemuran dilakukan mulai jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Penjemuran diulangi lagi mulai jam 13.00 sampai sore. Hal ini dilakukan agar daya tumbuh benih tetap tinggi.
Budidaya Kacang Panjang
I. Persiapan Lahan
Sebelum ditanami lahan dilakukan pembajakan dan digaru, untuk memperoleh struktur tanah yang gembur dan remah. Kemudian dibuat bedengan dengan ukuran 1-1,2 m atau dibentuk guludan dengan jarak antar guludan 1 m.
II. Penanaman
Kebutuhan benih kacang panjang 21 - 23 kg/ha, khusus untuk varietas KP-01 10,5 kg/ha karena jarak tanam KP-01 lebih besar dan berat bijinya lebih ringan. Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dibuatkan lubang tanam dengan cara ditugal dengan jarak dalam barisan 25 cm dan antar barisan 1 m. Perlubang tanam diisi 2 biji, hal ini dimaksudkan dalam satu lanjaran maksimal 4 tanaman. Setelah itu biji ditanam, ditutup dengan tanah/pupuk kandang yang sudah lembut/remah atau bisa juga dengan abu.
III. Pemeliharaan Tanaman
3.1. Pemupukan
Pemupukan pertama ( I ) dilakukan umur ± 12 hari dengan dosis ZA = 50 kg/ha, SP-36 = 100 kg/ha, KCL = 50 kg/ha. Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal, jaraknya 5 cm dari lubang tanam. Kemudian ditutup dengan tanah. Pemupukan kedua ( II ) dilakukan umur ± 28 hari dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam. Pemupukan ketiga ( III ) dilakukan umur ± 40 hari juga dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam.
3.2. Pemasangan Lanjaran
Pemasangan lanjaran dilakukan 10-15 hari setelah tanam ( hst ), kira-kira tinggi tanaman 15-25 cm. Pemasangan lanjaran diantara 2 lubang tanam sehingga jarak antar lanjaran 50 cm. Setiap 5 lanjaran perlu ditambah lanjaran/diperkuat, dengan cara dipasang silang.
3.3. Pemasangan Tali
Pemasangan tali dilakukan setelah pemasangan lanjaran selesai. Tali berguna membantu mengarahkan/merambatkan tanaman. Pemasangan tali ada dua tahap. Tahap I pada ketinggian ± 70 cm dari lanjaran. Tahap II pada ketinggian ± 150 cm dari lanjaran
3.4. Merambatkan
Membantu merambatkan bertujuan untuk mengarahkan pertumbuhan tanaman baik pucuk tanamn maupun cabang-cabang tanaman. Diharapkan tanaman merambat pada lanjaran dan tali yang telah dipasang, sehingga buah/polong tidak tergeletak di tanah.
3.5. Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebelum dilakukan pemupukan, atau dilakukan sewaktu-waktu saat gulma sudah mengganggu pertumbuhan tanaman.
3.6. Pengairan
Pengairan diberikan sesuai kebutuhan, yang terpenting dijaga agar tanaman tidak kelebihan atau kekurangan air. Pengairan sebaiknya dilakukan setelah pemupukan dilakukan. Sedangkan pada musim hujan, pengairan cukup dari air hujan.
3.7. Cek Offtype (Tipe Simpang)
Dilakukan setelah tanaman keluar polong. Dari polong bisa dibedakan dari warna dan panjang polong. Bila polong sudah tua, polong dapat dipecah untuk melihat ada tidaknya CVL dari warna polong.
IV. Hama dan Penyakit
4.1. Hama dan Pengendaliannya
Hama-hama tanaman kacang panjang adalah :
4.1.1. Thrips
Thrips menyerang bagian pucuk tanaman sehingga tanaman menjadi keriting dan kering, sering juga menyerang tunas atau pucuk, sejak tanaman masih kecil hingga besar. Ciri tanaman dewasa dapat berakibat kerontokan pada bunga dan serangan terjadi pada musim kemarau. Pengendalian thrips dengan menggunakan pestisida Winder, Promectin, Agrimec, Confidor dll dengan dosis sesuai anjuran.
4.1.2. Tungau (Mites)
Tanaman yang terserang tungau akan tampak dari daun-daun yang menggulung ke bawah, dan warnanya hijau kehitaman. Dalam kondisi parah, tanaman dapat mengalami kerontokan daun. Pengendalian dengan menggunakan Samite, Omite, Mitac dengan dosis sesuai anjuran.
4.1.3. Aphids sp.
Serangan Aphids sp. hampir sama dengan serangan thrips, hanya, bedanya jika pada serangan Aphids, daun menjadi hitam karena tumbuh jamur jelaga yang tumbuh pada kotoran Aphids. Apids dapat dikendalikan dengan Winder, Supracide dll, dengan dosis sesuai anjuran.
4.1.4. Ulat Polong.
Hama ulat bunga menyebabkan kerontokan pada bunga. sedangkan ulat polong menyebabkan kerusakan pada bagian polong. Kerusakan ini menimbulkan pembusukan bagian tersebut akibat aktifitas mikoorganisme yang berasal dari kotoran ulat tersebut. Hama-hama ini dapat dikendalikan dengan menggunakan Winder dengan dosis sesuai dengan rekomendasi.
4.2. Penyakit dan Pengendaliannya
4.2.1 .Penyakit layu
Penyakit ini bias disebabkan oleh jamur Pytium maupun oleh bakteri Pseudomonas sp. Penyakit ini dapat dicegah dengan kocor dengan Kocide 77, maupun dengan semprot. Sedangkan pengendalian bakteri dengan kocor Bactomycin atau Agrimycin dengan dosis sesuai anjuran.
V. Panen dan Pasca Panen
Panen dilakukan setelah polong berwarna coklat dan umur tanaman sekitar 60-70 hari. Panen dilakukan dengan memetik polong yang sudah tua dan biji sudah mulai megeras. Kemudian dijemur diatas terpal atau dibuatkan para-para ditempat yang panas. Setelah kering dipipil dengan alat perontok, biji juga dengan cara manual yaitu dupukul/digebug. Biji hasil pipilan dikeringkan lagi dan disortir, untuk memisahkan biji yang baik dengan biji yang jelek (berlubang, kepeng, kecil).
Budidaya Cabe Kecil
H O T C H I L I E P A P P E R
I. Persiapan Semai
Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1, serta TSP 100 gr/m² dan Petrofur. Selanjutnya disiapkan bedeng semai dengan lebar 1 m dan panjang sesuai dengan kebutuhan.
Bedeng semai dibuatkan atap dari plastik transparan, yang berfungsi untuk melindungi bibit dari terpaan hujan, angin, serta radiasi matahari yang berlebih. Bersamaan dengan itu, benih-benih cabe dikecambahkan dengan menggunakan kertas merang yang telah dibasahi secukupnya, kemudian diperam di tempat yang hangat. Kondisi media peram harus dijaga kelembabannya, dengan disemprot halus air dengan menggunakan handsprayer. Hal ini dilakukan sekitar 5 hari sampai benih berkecambah.
II. Semai
Benih yang telah berkecambah dipindah ke bedeng semai untuk ditanam di baby bag yang telah terisi media campuran. Kecambah ditanam sesuai dengan posisi pertumbuhan, dimana radikel disebelah bawah, dan pucuk di sebelah atas. Penanaman dilakukan sedalam 2 cm dan ditutup kembali dengan tanah.
III. Pengolahan Tanah dan Pembuatan Bedeng
Setelah itu, dilakukan bajak dan garu. Tujuan pengolahan ini adalah untuk mendapatkan struktur tanah yang baik untuk pertumbuhan akar. Setelah tercapai kondisi tanah yang homogen, bedengan segera di buat dengan ukuran lebar 100 – 120 cm, dengan panjang Sebelum dilakukan pengolahan, lahan diairi terlebih dahulu dan dibiarkan kering. menyesuaikan. Jarak antar bedengan adalah 50 – 80 cm. Pada permukaan bedengan ditaburi dengan pupuk kandang, pupuk dasar dan dolomite. Bahan-bahan tersebut dicampur hingga merata. Setelah selesai, permukaan bedeng diratakan untuk kemudian ditutup dengan mulsa plastik hitam perak. Dosis pupuk dasar adalah sebagai berikut :
Jenis pupuk Jumlah (kg/ha)
Pupuk kandang 20.000
ZA 300
TSP 170
KCl 200
IV. Pemasangan Mulsa Plastik
Seperti ditulis di atas bahwa pemasangan dilakukan setelah aplikasi pupuk dasar. Plastik dipasang pada siang hari, dimana pada saat tersebut,
plastic mengalami pemuaian, sehingga akan diperoleh hasil yang lebih kuat dan rapat. Setelah mulsa terpasang, lubang tanam dibuat dengan jarak 60 cm antar barisan dan 50 cm dalam barisan untuk tanam musim kemarau. Sedangkan untuk tanam musim penghujan, jaraknya adalah 70 cm antar barisan, dan 60 cm dalam barisan. Pada lubang tanam diberi butiran Karbofuran untuk antisipasi serangan ulat tanah maupun hama lainnya.
V. Penanaman
Penanaman dilakukan saat bibit berumur 20 – 25 hari atau telah memiliki jumlah daun 3 -4 helai. Bibit dipilih yang sehat, penampakan sempurna. Transplanting dilakukan pada sore hari untuk mencegah penguapan yang terlalu tinggi. Disamping itu, untuk menjaga agar tanaman tetap segar, dan mempercepat pemulihan tanaman dari stress akibat pindah tanam.
VI. Pemeliharaan Tanaman
5.1. Pengairan
Pengairan diberikan seminggu sekali dan terbagi dalam tiga tahap yaitu, sebelum tanam, fase vegetatif, serta fase generatif. Kebutuhan air mulai agak dikurangi saat tanaman mulai memasuki masa panen. Pada musim penghujan, pengairan tidak diperlukan, cukup dari air hujan saja.
5.2. Wiwil
Pemeliharaan yang lain adalah wiwil. Pewiwilan pada tunas lateral dilakukan pada ruas ke-1, 2 dan 3, atau disesuaikan dengan kondisi tanaman.
Fungsi wiwil adalah untuk menekan munculnya tunas-tunas air,sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.
5.3. Pemupukan
Pemupukan lewat tanah dilakukan dengan tugal 10 cm dari pokok tanaman disebelah bawah plastik. Dosis anjuran dalam kg/ha adalah sbb:
JADUAL PEMUPUKAN
Jenis pupuk 10 hst 30 hst 50 hst 70 hst
ZA 100 200 200 200
TSP - 65 65 -
KCl - 100 30 -
Selain pupuk di atas, masih ada lagi pupuk yang diaplikasikan lewat daun seperti Mamigro Super N, Mamigro Super P dan Mamigro NPK Spesial yang disemprot dengan dosis sesuai anjuran. Kocor pupuk KNO3 dapat dilakukan untuk membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
5.4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama-hama tanaman cabe adalah :
5.4.1. Trips
• terserang trips adalah bagianh pucuk tanaman menjadi keriting dan kering. Pada tanaman Trips menyerang tunas atau pucuk, sejak tanaman masih kecil hingga besar. Ciri tanaman dewasa dapat berakibat kerontokan pada bunga, dan serangan terjadi pada musim kemarau. Pengendalian trips dengan menggunakan Winder, Promectin, Agrimec, Confidor dll dengan dosis sesuai anjuran.
5.4.2. Tungau (Mite)
• Tanaman yang terserang tungau akan tampak dari daun-daun yang menggulung ke bawah, dan warnanya hijau kehitaman. Dalam kondisi parah, tanaman dapat mengalami kerontokan daun. Pengendalian dengan menggunakan Samite, Omite, Mitac dengan dosis sesuai anjuran.
5.4.3. Apids (cabuk)
• Serangan apids hamper sama dengan serangan trips, hanya, bedanya jika pada serangan apids, daun menjadi hitam karena tumbuh jamur jelaga yang tumbuh pada kotoran apids. Apids dapat dikendalikan dengan Winder, Supracide dll, dengan dosis sesuai anjuran.
5.4.4. Lalat Buah (Dacus sp)
• Serangan ini ditandai dengan adanya rontok buah dan busuk. Dan bila buah dibelah, akan terdapat larva di dalamnya. Pengendalian dengan pemasangan perangkap lalat buah dengan menggunakan botol yang diisi dengan kapas yang telah dibasahi dengan larutan petrogenon. Pengendalian lain adalah dengan menyemprot pestisida yang berbau menyengat.
5.5. Penyakit-penyakit tanaman cabe adalah :
5.5.1. Embun tepung
• Ciri-ciri serangan jamur ini adalah daun tampak berwarna putih dan tampak adanya butiran-butiran seperti tepung yang tersebar. Penyakit ini akan berkembang pesat dalam kondisi cuaca panas dan lembab. Pengendalian dengan semprot fungisida kontak dan sistemik secara preventif, sehingga serangan tidak menyebar dengan cepat.
5.5.2. Penyakit layu
o Penyakit ini bias disebabkan oleh jamur Pytium maupun oleh bakteri Pseudomonas sp. Penyakit ini dapat dicegah dengan kocor dengan Kocide 77, maupun dengan semprot. Sedangkan pengendalian bakteri dengan kocor Bactomycin atau Agrimycin dengan dosis sesuai anjuran.
5.5.3. Penyakit antracnosa.
• Biasanya menyerang bagian buah. Buah yang terserang akan membusuk dan kering. Serangnan ditandai dengan munculnya bercak coklat pada bauh, dan akan berkembang secara pesat terutama pada musim hujan. Penyakit ini dikendalikan secara preventif dengan semprot fungisida secara teratur.
5.5.4. Defisiensi Kalsium
• Ciri-cirinya adalah, buah muda tampak kuning pada bagian ujungnya, kemudian buah menjadi kering dan tidak dapat berwarna merah bila matang. Pengendaliannya adalah dengan semprot pupuk kalsium, fitomik pada saat awal pembentukan buah sampai menjelang masak.
VI. Panen
Panen dilakukan apabila buah sudah mulai memerah sempurna, dan biasanya berada pada umur 85 – 90 hst, dan dapat dipanen 10 – 12 kali dengan interval panen satu minggu. Warna merah pada kulit buah menandakan bahwa buah tersebut sudah masak secara fisiologis. Artinya, mulai saat tersebut, aliran zat makanan ke buah dan biji sudah terhenti yang ditandai dengan matinya jaringan angkut ke daerah tersebut.
